Tampilkan postingan dengan label kehidupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kehidupan. Tampilkan semua postingan


“Mungkinkah
Kehilangan gairah hidup karena perceraian
Semua tak semudah mulut berucap
Lidah yang terus berkelit
Ekspektasi yang tak tercapai

Sepi sungguh
Berada dalam jurang kehidupan
Tak mampu lagi menatap sejauh mana daratan berada
Hanya suara angin disekitar telingamu
Menyelimuti diri dalam hening dan kehampaan
Dan saat kabut turun
Rasakan betapa dinginnya menyentuh tulang itu
Mati rasa terhadap keadaan

Sungguh ini baru satu buah kegagalan
Bukan sesuatu yang sia-sia
Mendapati anganmu terbang bersama roh yang menyesal
Biarkan mengelilingi alam
Hingga hinggap pada sebuah penantian
Di ujung hidup”

Adam F. M 28-06-16 21.37


               Sedikit cerita,

            Puisi ini cukup menggambarkan betapa sedihnya saat kegagalan datang pada kita. Deskripsi keadaan yang cukup ironi. Tak sedikit juga orang yang mengalami kegagalan dalam hidupnya. Terkadang, kita pada akhirnya hanya mampu menjalani sisa hidup dengan sisa harapan yaitu “bertahan hidup”. Tidak cukup buruk, namun juga tidak cukup bagus. Kenapa? Karena hidup butuh semangat dan tujuan, not just alive. Karena satu buah kegagalan dalam kehidupan ini, bukan berarti akhir dari seluruh kehidupan yang kita jalani.
            “Orang yang dalam tekanan tanpa memiliki kekuatan memiliki sudut pandang yang beragam, mereka mengalami dan memahaminya dari sudut pandang yang menguntungkan. Sebaliknya, orang mempunyai kekuasaan tidak perlu mempelajari dan melihat dari sudut pandang orang yang ditekan” – Sandra Harding and Patricia Hill Collins.

            Mungkin hal di atas mengungkapkan bahwa siapapun yang hidup dibawah tekanan apapun itu akan membuat seseorang memiliki tingkat berpikir yang tinggi. Atau, seberapa besar pengalaman seseorang akan kehidupannya mempengaruhi pola berpikir yang lebih mendasar, menyeluruh, dan spekulatif. Atau, bisa juga berlaku bagi siapapun orang yang hidup dengan penuh kekuasaan dan kemewahan mempengaruhi sempit atau luasnya cara mereka berpikir. Ya, masih ada banyak kemungkinan untuk mengungkap pemikiran di atas tergantung dari mana kalian berpikir. Setidaknya, secara logika pun, siapa saja orang yang hidupnya sudah dimanja kekuasaan tidak mungkin memiliki sudut pandang yang setara dengan mereka yang kehidupannya dominan akan tekanan. Sebut saja, pola pikir seorang anak yang dimanja segala sesuatunya oleh kedua orang tuanya mungkin tidak akan sama dengan pola pikir seorang anak yang harus berjuang untuk hidupnya sendiri sejak kecil.

            Dalam kehidupan saya, hal ini bukan merupakan suatu hal yang aneh untuk dilihat dan dirasakan. Bahkan dari segi masyarakat pun sudah terjadi dengan sendirinya. Hidup memang antara adil dan tidak adil, mengapa? Adil karena Tuhan menciptakan manusia dengan berjuta pengalaman hidup yang berbeda untuk mempengaruhi pola berpikir di kemudian hari, namun tidak adil karena seringkali kekuasaan yang ada tidak dipegang oleh mereka yang open minded karena berorientasi pada kuantitas materi. Okay, mungkin hal di atas cukup egois untuk disimpulkan. Namun mengapa saya lebih bernafsu untuk mengungkapkan hal itu? Karena mayoritas yang digambarkan dan dilihat oleh mata kita adalah kuantitas materi. Lihat saja, kehidupan di sekitar kita bagaikan boneka. Dimana yang ber-uang mengendalikan lebih banyak bagian dibandingkan dengan yang open minded. meskipun yang open minded benar-benar memimpin, tentu harus dibantu dengan uang atau sebut saja materi sebagai sarana melancarkan tujuan. Dimana sebuah kampanye partai diwarnai dengan uang yang diberikan pada para pendukungnya agar masyarakat berpihak padanya. Dimana suatu label musik mengontrol segala karya musisi untuk disesuaikan dengan pasar yang sedang ramai, hingga akhirnya banyak bermunculan band indie atau independent. Dimana suatu sumbangan dana akan pembangunan gedung sebuah instansi pendidikan menentukan diterima atau tidaknya seseorang. Ya, ujung-ujungnya selalu saja materi. Entah kemana postingan ini akan mengarah. Mungkin apa yang saya lihat tentang kehidupan ini terlalu sempit, atau bahkan saya tidak melihat sama sekali.

            Seperti pada postingan sebelumnya, hidup terlalu kompleks. Terutama saat kalian melihat setiap kejadian secara jeli. Meskipun suatu peristiwa kehidupan terlihat biasa saja, namun sebenarnya selalu menyimpan suatu hal yang menarik. Sebut saja saat seorang majikan memarahi pembantu rumah tangganya. Secara kasat mata dan pemikiran secara umum, akan ada dua hal yang terlintas. Yaitu siapa yang benar menentukan siapa yang salah. Namun hal ini tidak menunjukkan akan kebenaran yang sejati. Apa kriteria menentukan suatu kebenaran? Realita? Hampir tidak ada dan tergantung pada darimana kalian menentukan kebenaran dan kesalahan itu. Kita sudah hidup secara egois setelah sekian lama. Hal ini terjadi karena kita (manusia) sering memandang sesuatu hanya sebelah mata dan tidak mendalaminya. Sehingga menyebabkan kita terburu-buru dalam menyimpulkan sesuatu tanpa menyadari akar dari suatu masalah yang sebenarnya. Tidak bisa menyalahkan siapapun di sini. Segala bentuk pemikiran yang terjadi timbul dari pengalaman yang terjadi sehingga menentukan kita dalam menyimpulkan sesuatu.

            Segala bentuk perselisihan yang terjadi mungkin bukan karena adanya egoisme, sebagian besar memang iya, tetapi sisanya hanyalah perbedaan dalam cara menyimpulkan suatu hal. Dalam ber-argumentasi contohnya. Entah kenapa, seringkali keributan lah yang menjadi akhirnya. Padahal, yang seharusnya terjadi adalah menyatukan argumen sehingga menghasilkan suatu pemikiran atau penyelesaian atau kesimpulan yang seimbang. Keributan tidak harus menjadi akhir pada suatu musyawarah, berbeda dengan perselisihan yang disebabkan karena perbedaan pola pikir yang tentunya dipengaruhi oleh berbagai hal.

            Pernahkah anda memperhatikan suatu hal yang biasa dan membayangkan akar penyebabnya hingga hadir berjuta kemungkinan di kepala anda? Atau pernahkah anda melihat suatu peristiwa di depan mata anda namun tidak hanya melihat, tetapi memikirkan peristiwa itu secara jeli? Dalam hal ini, mungkin akan ada banyak orang beranggapan untuk apa kita memikirkan sesuatu yang tidak seharusnya kita pikirkan. Dan seringkali dianggap membuang-buang waktu. Tapi, apakah hal ini yang sebenarnya mempengaruhi tingkat kepedulian kita pada lingkungan di sekitar?




            Saya menyadari beberapa hal. Ternyata, pola berpikir kita seringkali mempengaruhi pro-kontra dalam kehidupan ini. Juga dalam proses beradaptasi akan suatu hal. Seseorang yang terbiasa dengan hiruk-pikuk keramaian kota, tinggal diantara kepungan hal yang instan, mungkin akan sangat sulit terbiasa untuk tinggal di sebuah desa yang notabene tidak ada hal yang instan di sana. Bahkan untuk tidur tanpa kipas angin pun rasanya akan kesulitan. Hal ini cukup membuktikan bahwa pengalaman yang terjadi sepanjang hidup kita benar-benar mempengaruhi cara kita berpikir dan menyimpulkan suatu hal.

            Sangat sulit untuk memiliki pemikiran yang terbuka. Mungkin karena kita dipaksa untuk memikirkan sesuatu yang tidak pernah terlintas dalam kehidupan kita sebelumnya. Bahkan seorang yang sudah dewasa pun akan sulit untuk menerapkan hal tersebut. Karena seseorang seringkali merasa dipaksa untuk tidak menjadi dirinya sendiri saat berusaha untuk membuka pikirannya. Mungkin dari sinilah akhirnya timbul bentuk keributan karena perbedaan pendapat. Bahkan, suatu pertengkaran pun dapat timbul meskipun salah satu dari dua orang tersebut sudah berusaha untuk memahami apa yang diinginkan lawannya. Apakah hal ini membuktikan bahwa kebanyakan dari kita hanya ingin dimaklumi bukan memaklumi?

            Tentang beradaptasi, mari kita lihat tentang kasus orang tua yang memarahi anaknya yang baru saja memasuki jenjang pendidikan taman kanak-anak melontarkan kata-kata yang tidak seharusnya diucapkan. Banyak sekali respon yang timbul dari orang tua saat mendapati buah hatinya mengucapkan hal yang tidak pantas. Menurut Piaget, hal ini disebut sebagai tahap praoperasional. Dimana anak-anak mulai melukiskan dunia dengan kata-kata dan gambar-gambar. Pemikiran simbolis melampaui hubungan sederhana antara informasi sensor dan tindakan fisik. Akan tetapi, walaupun anak-anak prasekolah dapat secara simbolis melukiskan dunia, menurut Piaget, mereka masih belum mampu untuk melaksanakan apa yang disebut “operasi” tindakan mental yang diinternalisasikan yang memungkinkan anak-anak melakukan secara mental apa yang sebelumnya dilakukan secara fisik. Hal ini sering terjadi pada anak usia 2-7 tahun. Jika saja hal yang terjadi pada anak itu dibiarkan, tentu akan berpengaruh pada kehidupan dia saat beranjak dewasa. Karena didikan orang tua berpengaruh besar pada tahap ini dan tentu menentukan bagaimana anak berpikir dan mengungkapkan suatu hal.

            Mengembangkan pola pikir yang luas untuk diri sendiri sangatlah sulit. Apalagi saat kita tidak terbiasa untuk peduli akan suatu hal sekitar. Anggap saja saat kita tinggal dalam sebuah rumah yang besar dengan keluarga kecil. Rumah adalah tempat tinggal dimana yang bertanggung jawab adalah semua yang tinggal di dalamnya. Setiap orang bertanggung jawab atas segala yang ada di dalam rumah tersebut. Sebut saja di dalamnya tinggal sepasang orang tua yang ditemani empat orang anaknya yang masing-masing kuliah, masih duduk di bangku SMP, SD, dan baru beranjak ke jenjang pendidikan pertamanya. Mari kita gambarkan sang Ayah bertanggung jawab atas segala sesuatu yang berat seperti genteng yang bocor, kolam ikan yang kotor, memotong rumput yang menjulang tinggi, dan tentunya bekerja untuk menafkahi keluarga. Lalu, mari kita lihat sang Ibu yang bertugas untuk mengawasi aktifitas anak-anaknya selama di rumah, memasak, mencuci piring, mencuci baju, dan menyapu. Selanjutnya, anak yang paling besar bertugas untuk mengepel, merapikan kamarnya sendiri, mencuci piring yang digunakannya, mengantar tiga orang adiknya setiap pagi ke sekolah, bertanggung jawab pada kamarnya, dan mengatur waktunya untuk tetap bertanggung jawab di rumah. Lalu, anak yang duduk di bangku SMP dan SD hanya bertanggung jawab pada sekolah dan kebersihan kamarnya saja, berjaga-jaga agar bisa mandiri di kemudian hari. Sementara, anak yang paling kecil ditanggung oleh sang Ibu untuk segala halnya. Pada gambaran di atas, mungkin sudah menunjukkan sesuatu yang seimbang dalam sebuah keluarga. Tapi bagaimana jika dihadirkan seorang pembantu untuk meringankan beban sang ibu yang ternyata cukup sibuk bekerja? Masih cukup adil bagi saya. Tapi, bagaimana jika dihadirkan juga seorang baby sitter untuk mengurus dua anaknya yang paling kecil? Memang membantu jika dilihat dari sudut pandang seorang wanita karir yang sibuk akan pekerjaannya. Tetapi, bagaimana menurut sudut pandang seorang Ibu yang sungguh memainkan perannya sebagai “Ibu” yang sesungguhnya? Jelas akan berbeda. Pembagian tugas dalam sebuah rumah menurut gambaran di atas sudah cukup adil secara umum.

            Sekarang, mari kita lebarkan pertanyaan yang akan timbul dari gambaran di atas. Bagaimana cara mereka menjalin komunikasi jika kedua orang tuanya sama-sama bekerja? Bagaimana perkembangan dua orang anak yang yang paling kecil saat segala sesuatunya dibantu oleh baby sitter, bukan Ibunya? Bagaimana cara sang ibu menjalin komunikasi dengan keempat orang anaknya yang memiliki jarak umur cukup signifikan, yang tentunya mempengaruhi apa yang dipikirkannya? Bagaimana cara sang ayah menengahkan suatu permasalahan kala sang anak tertua sudah bisa mengembangkan pola pikirnya dan ikut ber-argumentasi? - Beberapa pertanyaan di atas hanya sebagian kecil dari yang saya pikirkan. Mungkin kalian sebagai pembaca akan timbul pertanyaan lain diluar dari yang saya sebutkan. Tapi, untuk menjawab pertanyaan di atas apakah kalian sebagai pembaca hanya melihat dari gambaran yang saya berikan? Adakah salah satu dari kalian yang akan bertanya-tanya dalam diri, “mungkinkah jika ternyata ada hubungan tidak sedarah di dalam keluarga itu?” atau “mengapa harus menggunakan baby sitter jika sang ibu memiliki tanggung jawab mengawasi anaknya meski harus bekerja?” atau “mengapa diperlukan seorang pembantu jika hanya untuk membersihkan rumah? Sedangkan sebagian besar kegiatan dilakukan di luar rumah karena sang ayah yang mengikuti jam kerja pada umumnya, sang ibu pun sama, dan anak yang paling besar menghabiskan sebagian waktunya di kampus.” Atau “Seberapa sibuk sang ibu sehingga memerlukan baby sitter dan pembantu untuk membantunya?” dan masih banyak perkiraan lain yang tentunya di bisa saya jabarkan seluruhnya di sini.

            Dari paragraf di atas, kalian sebagian besar pembaca tentunya terpaku dari gambaran yang saya berikan sementara sebagian lainnya membayangkan di otaknya apa yang benar-benar akan terjadi jika hal tersebut memang terjadi di kehidupan nyata, dan tidak menutup kemungkinan juga untuk menyanggah segala pertanyaan dan gambaran yang saya berikan. Karena semua tergantung dari sisi mana anda berpikir tentang sesuatu yang anda lihat dan anda bayangkan. Sejauh mana anda berpikir, sejauh itu juga anda mempedulikan sesuatu yang terlintas dalam diri dan sekitar anda.

            Apa yang kita pikirkan seringkali dibatasi oleh kemampuan yang kita miliki. Seperti halnya berpikir akan kegagalan yang akan terjadi di kemudian hari dan kemudian membayangkan seperti apa jatuhnya nanti. Memikirkan kegagalan memang cukup membantu untuk antisipasi jika terjadi suatu kegagalan di kemudian hari dan tahu apa langkah selanjutnya jika kegagalan memang terjadi. Namun, di sisi lain kita juga tidak boleh terlalu memikirkan atau bahkan takut akan terjadi kegagalan. Karena yang sering terjadi dalam proses kehidupan adalah trial and error. Atau dengan kata lain adalah “optimis”. Segala hal yang terlintas di otak kita seringkali mempengaruhi apa yang akan kita lakukan selanjutnya. Kembali lagi, tergantung bagaimana seseorang memandang sesuatu yang ada di hadapannya.




            Seseorang menjadi dermawan bukan karena hartanya terlalu banyak, namun karena ia sadar bahwa ia tidak hidup sendiri, dan seseorang menjadi dermawan pun pasti sadar akan masa lalunya sehingga membuat dia merasa membantu adalah suatu kewajiban. Jika kita ingin orang lain peduli dengan kita, maka kita pun harus seperti itu dengan orang lain. Kita manusia sebagai makhluk sosial tidak mungkin tidak membutuhkan bantuan orang lain untuk mencapai suatu tujuan. Dengan begitu, kita juga harus rela peduli dan membantu orang lain untuk mencapai tujuannya. Pada bagian ini, banyak orang yang menganggap kepedulian adalah suatu hal yang sepele, bahkan sering terkesan menganggap remeh tentang kepedulian.

            
            Kadang hidup terlalu menarik untuk diceritakan. Tapi di sisi lain juga terlalu sedih untuk diungkapkan. Seakan berjalan pada setapak tak berujung, kita tak pernah tau kemana ini semua akan berakhir. Sering saya berpikir tentang segala kenyataan yang ada. Apakah ini semua benar-benar kenyataan atau hanya sekumpulan ujian yang mewarnai garis hidup ini.

            Sejauh ini, kehidupan yang saya pahami berawal dari gagasan yang selalu terlintas di dalam otak kita. Dimana kita harus berusaha untuk mewujudkannya sesuai dengan gagasan kita. Akan tetapi saat ekspektasi tak sesuai dengan gagasan, apakah itu merupakan suatu kegagalan? Ah entahlah, yang ku tahu itu hanya serangkaian halangan untuk membuktikan seberapa kuat diri kita untuk menerima tekanan.

            Setiap orang selalu memiliki kesalahan terbesar dalam kehidupannya, tentu dengan tingkat kesulitan yang berbeda-beda. Mereka selalu beranggapan bahwa setelah kejadian itu maka kehidupan mereka berakhir. Sungguh ironi bukan? Satu atau bahkan sejuta kesalahan dalam hidup, bagi saya bukan merupakan akhir dari kehidupan yang kita jalani. Tetapi merupakan sebuah jalan yang menunjukkan kebenaran. Bukan kebenaran yang seharusnya kita ambil, tapi merupakan kebenaran yang kita tidak tahu.

            Mengambil langkah benar atau salah adalah suatu hal yang abstrak. Kita tak akan pernah tau hal itu baik atau buruk, benar atau salah, sebelum orang sekitar menghakimi. Seorang wanita terdekat ku pernah berkata, “segala hal yang baik untuk kita belum tentu baik untuk orang lain.” Benar memang. Secara umum hidup memang harus seimbang seperti itu. Tetapi, siapa yang tau hal yang baik untuk diri sendiri selain diri kita sendiri? Hal ini kadang cukup kompleks untuk membuktikan mana hal yang baik dan buruk, atau bahkan mana benar dan mana salah.

            Kita hidup dalam dunia yang cukup abstrak, mungkin lebih dari itu. Tidak ada kejelasan yang pasti. Bahkan tidak ada yang tahu seberapa luas galaksi kita ini. Bisa saja di planet lain, atau bahkan galaksi yang lain juga hidup manusia seperti kita.

            Menetapkan pola pikir gagasan sebelum kenyataan adalah hal yang sangat sulit. Karena doktrin yang selama ini kita terima adalah yang dilihat oleh mata adalah kenyataan yang terbatas. Padahal, di luar sana banyak orang difabel yang bisa hidup dengan cukup bahagia dengan mewujudkan segala hal yang diinginkannya. Apakah ini suatu keajaiban? Bukan, itu adalah keinginan yang kuat untuk mewujudkan apa yang terbesit di dalam otak kita menjadi suatu hal yang nyata. Ketidakyakinan kita dalam menghadapi kehidupan membuat banyak ide dihapuskan secara permanen dari otak kita. Bahkan sebagian besar orang mengaku pasrah dalam menjalani sisa hidupnya. Suatu hal yang cukup aneh sebenarnya. Mereka yang pasrah padahal mengharap hidup bahagia namun akhirnya terpaksa karna terhimpit oleh segala kenyataan yang dihadapi. Bagi saya, kenyataan bukan lah sekedar dihadapi, tapi kita harus mengalahkan kenyataan untuk menjadikan segalanya sesuai dengan apa yang kita inginkan.

            Materi yang ada selalu mengakhiri harapan kita. Tidak salahnya saat kita mengharapkan suatu hal  yang lebih dari kemampuan kita. Hey! Itu adalah salah satu harapan bukan? Kenapa harus dibatasi seperti itu? Kita manusia sudah dibekali dengan kemampuan berpikir, berusaha, dan berdoa. Lantas apa lagi yang tidak mungkin? Selama semua masih bisa diterima oleh akal sehat manusia, harusnya kita mendapat kebebasan untuk membuktikan segala kemampuan kita.

            Bersyukur akan segala hal adalah salah satu kewajiban kita. Namun, bersyukur bukan berarti kita berhenti meraih apa yang sebenarnya kita inginkan. Menurut saya, Tuhan mewajibkan kita bersyukur bukan berarti kita cukup sampai di situ, tapi saya yakin tujuan dibalik bersyukur adalah untuk memotivasi diri sendiri agar bisa mendapatkan sesuai apa yang didambakan.

            Dewasa ini, kita selalu mempermasalahkan tentang perekonomian. Di zaman seperti ini, uang memang kita butuhkan namun uang bukanlah jaminan sebuah kebahagiaan. Lebih dari satu juta orang memilih untuk berpikir materialistis untuk mendapatkan kebahagiaan. Entahlah, mungkin mereka dimanja akan materi, beranggapan bahwa segala barang mewah yang dimilikinya adalah sebagai status kebahagiaan. That is the real fuckin’ dumb mindset! Jutaan orang terkapar kelaparan, tanpa papan, dan sandang seadanya. Dimana sisi manusia yang memanusiakan manusia? Tak perlu lah kita melirik negara tetangga, di negara kita sendiri pun sudah banyak contohnya. Bahkan dari hal terkecil sekalipun. Sejauh mata saya memandang, banyak hal, ralat terlalu banyak hal yang dilakukan hanya sekedar formalitas saja. Kesungguhan yang dilakukan mungkin kurang dari setengah persen. Mereka para manusia materialisme, mungkin tidak akan pernah menyadari bagaimana rasanya tersenyum tanpa beban dan tidur ditemani mimpi indah, bukan sekedar gelap saat mata terpejam.




            Coba lihat di sekitar anda, dimana banyak orang menjalani rutinitas yang stagnan tanpa hal yang baru. Lalu dimana letak kehidupannya? Bangun pagi, beli sarapan, berangkat kerja, melakukan aktifitas kerja yang itu-itu saja, pulang saat senja, makan malam dengan keluarga, dan menerima gaji pada akhir atau awal bulan. Bukankah hal ini merupakan cerminan kita hidup untuk uang? Dimana uang memang menghidupi kita dan merupakan status kemapanan seseorang. Secara logika, memang benar adanya karena apa yang terjadi memang seperti itu. Lantas dimana kebahagiaan kita yang seharusnya hidup penuh cinta? Jutaan buruh dan pekerja di luar sana mengeluhkan akan pekerjaan yang mereka jalani, namun saya yakin mereka memilih itu karena sebuah keterpaksaan. Yap! Keterpaksaan demi materi yang diyakini satu-satunya cara mereka bertahan hidup. Dimana canda tawanya? Mereka mungkin tertawa dan tersenyum, karena menutupi bagian sedih dari kehidupan yang dijalaninya, mereka bukan tertawa dan tersenyum untuk bahagia. Miris bukan? Tapi, pernahkah anda melihat suatu kehidupan  dimana sebuah keluarga hidup dengan damai, penuh canda tawa, seakan masalah hanyalah sebuah debu yang menempel pada meja, mudah dibersihkan? Saya hidup di tengah dua buah keluarga yang cukup berbanding terbalik. Dimana keduanya cukup mempengaruhi segala pola pikir saya. Salah satu diantaranya merupakan sebuah kesatuan keluarga yang jika dipandang secara jeli hampir tidak terpenuhi keinginannya, namun sepanjang waktu yang saya lewati adalah kebahagiaan, penuh syukur, dan tak pernah berehenti berusaha untuk mewujudkan sebuah mimpi, bahkan sekecil apapun mimpi itu. Tingkat kepedulian satu sama lain yang tinggi, memikirkan hal sampai sedetail mungkin jika terjadi sebuah kesalahan. Karena mereka beranggapan sekecil apapun itu, kebohongan apapun tentu akan menjadi fatal di kemudian hari. Dan tentunya tidak menganggap segala hal adalah mudah. Karena perlu disadari bahwa tidak ada hal yang tidak membutuhkan usaha, dan dari situlah akan muncul rasa menghargai dan peduli. Mungkin cukup sulit ditemukan saat ini, karena mayoritas manusia terdoktrin untuk hidup demi materi.

            Saya sadar diri, disaat mengungkapkan hal seperti di atas pasti akan disangkal banyak orang. Secara mendasar saya tidak menghakimi, namun bagi yang menyangkal juga tidak boleh menutup diri dan harus membuka pikiran seluas-luasnya. Saya akan sangat senang hati untuk menerima kritikan dan jika bersedia menemani saya ngobrol lewat email atau chatting. Membahas hal seperti ini seakan mengungkap misteri yang tiada akhir. Namun hal-hal materialisme memang berefek sangat fatal. Dimana akan terjadi sebuah korupsi dan mengorbankan segala hal demi materi. Rasanya tak perlu lagi saya menjabarkan hal itu, sudah terpampang jelas di depan mata dan media.




            Bahagia memang sulit di definisikan, mungkin lebih terkesan tak terbatas. Karena setiap orang pasti memiliki tingkat yang berbeda dalam merasakannya. Namun, yang sering terlihat bukanlah bahagia yang sesungguhnya, mereka terpuruk demi bahagia, mereka menangis demi bahagia. Tapi tetap saja, bukan bahagia yang tercipta malah kesedihan yang terus datang. Entahlah, kenapa hal seperti ini sering terjadi. Apakah kita terlalu rumit? Terlalu gengsi untuk bersyukur? Terlalu malu untuk merendah? Atau apa apalagi? Jika menganggap hal itu merupakan sebuah pengorbanan, mungkin adalah kalimat paling klise yang tercipta. Yang saya tahu, bukan pengorbanan tetapi usaha. Berkata tentang pengorbanan mungkin mengingat betapa sakitnya kehidupan mereka terdahulu yang sebenarnya merupakan sebuah usaha.

            Yang cukup menarik saat ini adalah materi sebagai kebahagiaan. Entah kenapa, masih banyak orang di sekitar kita yang beranggapan bahwa jika kita belum mempunyai mobil maka belum mapan, jika rumah tidak murni hasil sendiri dianggap curang. Sungguh suatu perspektif yang tidak adil. Kemampuan setiap orang untuk mendapat kebahagiaan adalah berbeda-beda, tapi mengapa harus dituntut dengan mengedepankan materi? Jika kita lebaran merasa cukup dengan mengenakan baju muslim yang sama dengan tahun sebelumnya, kenapa harus dituntut untuk membeli yang baru? Jika kita merasa cukup dengan menggunakan kendaraan yang sudah berumur namun sehat, kenapa harus dipermalukan? Bodohnya kita, selalu terpancing dengan hal material seperti itu hanya karena orang lain merendahkan kita.

            “Dimana kaki berpijak, di situ langit dijunjung.” Sepertinya, peribahasa ini tercipta atas dasar toleransi dan mengurangi egoisme. Layaknya pepatah “Take or Leave.” Jika kita tidak bisa mengikuti aturan yang ada maka alangkah baiknya kita angkat kaki dari suatu tempat. Namun, jika dilihat dari sudut pandang realita saat ini, hal yang terjadi adalah menginjak hak seseorang atau bahkan memperbudak. Pada bagian ini, bisa dilihat dari ratusan ribu PRT yang bekerja. PRT atau asisten rumah tangga juga manusia, butuh bahagia, namun seringkali hak-haknya diacuhkan begitu saja. Tidak sekali dua kali saya melihat seorang asisten rumah tangga dibentak atau diperlakukan tidak manusiawi oleh majikannya. Mereka (Asisten rumah tangga) sudah mengikuti aturan yang ditetapkan oleh majikannya. Namun kenapa mereka seringkali jadi kambing hitam jika terjadi suatu kesalahan di dalam sebuah rumah? Sudah adilkah kalian para penguasa kehidupan di rumah? Kadang, pada sisi ini saya berpikir, bagaimana kita dapat hidup bahagia jika kita sendiri tidak bisa membuat orang lain merasa bahagia? Mereka para majikan seringkali bertutur kata yang tidak sewajarnya kepada para asisten rumah tangga. Selalu saja mereka bertindak seolah penguasa yang sedang menindas kaum minoritas.

            Entahlah, hidup memang kompleks.



Diberdayakan oleh Blogger.